[21-Sep-2018 04:50:59 America/Chicago] PHP Fatal error: Call to undefined function plugins_url() in /home/mandalikadutadam/public_html/wp-content/plugins/accelerated-mobile-pages/pagebuilder/modules/image.php on line 11 [21-Sep-2018 04:50:59 America/Chicago] PHP Fatal error: Call to undefined function plugins_url() in /home/mandalikadutadam/public_html/wp-content/plugins/accelerated-mobile-pages/pagebuilder/modules/blurb.php on line 27 [21-Sep-2018 04:50:59 America/Chicago] PHP Fatal error: Call to undefined function get_categories() in /home/mandalikadutadam/public_html/wp-content/plugins/accelerated-mobile-pages/pagebuilder/modules/contents.php on line 13 PEMOEDA TEMPOE DOELOE VS PEMUDA ZAMAN NOW - Mandalika Duta Damai
Friday, October 19Mataram - Nusa Tenggara Barat

PEMOEDA TEMPOE DOELOE VS PEMUDA ZAMAN NOW

Bagikan ke tempan sosial anda
pemuda jaman dulu dengan sekarang
Pemuda jaman dulu

““Perang bukan lagi perkara kecanggihan senjata, namun hal itu perkara kekuatan bahasa dan kata-kata. Maka, seruan hari ini bukan lagi angkat senapanmu akan tetapi angkat HP dan laptopmu!!!”

Di setiap perayaan hari-hari besar, hal yang paling sering saya lakukan adalan “refleksi”. Mungkin takdir jadi perempuan yang membuat saya suka “ngaca” :v. Sama halnya dengan perayaan Sumpah Pemuda tahun ini, berkaca dan merenung adalah hal pertama yang saya lakukan ketika teman-teman dari pergerakan mengajak saya berdiskusi sebelum turun aksi. Yang pertama mucul dibenak saya adalah pertanyaan tentang “Apa hal special yang dimiliki pemuda?”.

Pemuda identik dengan semangat, kekuatan, gagasan yang brilian, dan idealisme. Untuk menggambarkan semangat dan kekuatan pemuda, Soekrno mengAtakan “ beri aku 10 pemuda, niscaya akan aku guncangkan dunia”, atau perkataan Tan Malaka “ Idealisme adalah kemewahan tertinggi yang dimiliki pemuda”. Terkait gagasan yang brilian, tak dapat dipungkiri bagaiamana pemuda bisa menyumbangkan ide yang tak terfikirkan oleh generasi yang lebih tua. Jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terbentuk, para pemuda sudah memiliki gagasan tentang persatuan yang mampu menyatukan berbagai daerah di Indonesia yang memiliki background suku, budaya, dan bahasa yang berbeda-beda; kongres pemuda kedua yang melahirkan tiga butir sumpah pemuda 89 tahun yang lalu.

Seperti itulah gambaran singkat tentang pemuda. Jika diingat kembali bagaima pemuda di zaman dahulu, sejak era sebelum kemerdekaan, pasca kemerdekaan, orde lama, orde baru, dan reformasi, maka kita akan tercengan dengan segala pencapaian mereka. Mereka telah menorehkan sebuah catatan kebanggan di lembar sejarah bangsa Indonesia.  Kala itu teknologi tak secanggih hari ini, namun ditengah keterbatasan seperti itu mereka dapat menjadi motor penggerak perubahan. Pertanyaanya kemudian, di era yang serba digital ini apakah generasi muda sekarang hanya bisa mengenang segala keromantisan perjuangan di masalalu tanpa bisa mengambi pelajaran darinya untuk melajutkan perjuangan?

Jika saya harus menjawab pertanyaan tersebut sendiri, secara personal saya tidak ingin terjebak dalam romantisme mengenang keberhasilan para pendahulu tanpa bisa menerapkan nilai dan spirit perjuangan mereka. Karena hidup dalam kenangan romantis itu bak hidup dalam ilusi. Untuk  itu, sekecil apapun yang bisa saya perbuat, besar harapan hal tersebut bisa berkontribusi untuk kemaslahatan bangsa. Tujuan yang terdengan “ideal”, namun memang seperti itu adanya. Setiap hal positif yang kita lakukan tentu kita berharap hal tersbut mampu memberi dampak postif bagi kemajuan bangsa dan negara. Sebut saja di era digital ini, bagi yang memilki pemahaman tentang Literasi Media tentu akan sangat berguna jika disebarkan untuk membuka mata masyarakat hari ini agar lebih aware dengan arus informasi. Hal tersebut tak jauh berbeda dengan para pemuda yang menggerakkan dan menyadarkan masyarakat di era pra kemerdekaan untuk merebut Tanah Air tercinta dari cengkraman penjajah.

Di era sekarang ini, keutuhan NKRI bukan hanya tugas para TNI, Polri dan instansi lain yang memiliki basic militer. Karena untuk menjaga NKRI tak hanya menggunakan senjata atau penguasaan teknik perang. Karena cara yang ditempuh bisa disesuaikan dengan kepribadian masing-masing pemuda Indonensia.

Salah satu peran pemuda yang sesuai dengan kehidupan pemuda di era digital  ini adalah dengan menyampaikan pesan perdamaian di dunia maya di tengah serangan para ekrimis yang mencoba memecah belah bangsa dengan virus negtaif berupa hoax. Selain itu, pemuda Indonesia juga harus terus memproduksi konten positif untuk melawan propaganda teroris yang mengincar para pemuda, sembari mawas diri. Karena peperangan yang nyata hari ini sungguh kasat mata, perang yang begitu tenang namun menghanyutkan. Hal itu lebih dikenal dengan istilah ghozul fikri atau perang pemikiran, peperangan yang hampir tak terliahat oleh indera, korbanpun tak bisa diidentifkasi kedalaman lukanya karena inveksi terletak di dalam “sistem”.

Maka seruan hari ini bukan lagi angkat senapanmu akan tetapi angkat HP dan laptopmu!!! Ya, Laptop atau HP diibaratkan sebagai senjata, kata-kata sebagai peluru, kuota sebagai pelatuk dan daya listrik sebagai jiwa atau mesin penggeraknya.

Bagikan ke tempan sosial anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *