[21-Sep-2018 04:50:59 America/Chicago] PHP Fatal error: Call to undefined function plugins_url() in /home/mandalikadutadam/public_html/wp-content/plugins/accelerated-mobile-pages/pagebuilder/modules/image.php on line 11 [21-Sep-2018 04:50:59 America/Chicago] PHP Fatal error: Call to undefined function plugins_url() in /home/mandalikadutadam/public_html/wp-content/plugins/accelerated-mobile-pages/pagebuilder/modules/blurb.php on line 27 [21-Sep-2018 04:50:59 America/Chicago] PHP Fatal error: Call to undefined function get_categories() in /home/mandalikadutadam/public_html/wp-content/plugins/accelerated-mobile-pages/pagebuilder/modules/contents.php on line 13 Menangkal Terorisme Sejak Dini : “ Yuk Pedekate lagi sama Guru Ngaji” - Mandalika Duta Damai
Friday, October 19Mataram - Nusa Tenggara Barat

Menangkal Terorisme Sejak Dini : “ Yuk Pedekate lagi sama Guru Ngaji”

Bagikan ke tempan sosial anda

Sejak maraknya penggunaan gadget di Indonesia, ruang gerak masyarakat seolah tak terbatas. Segala bentuk informasi bisa diakses dari segala lini kehidupan. Hal ini tentu sebuah kemajuan yang amat pesat dalam perkembangan kehidupan manusia. Tak hanya orang dewasa, saat ini penggunaan gadget telah mewabah kemana-mana , hingga ke usia anak-anak.
Anak-anak kita saat ini tidak lagi disibukkan untuk bermain layang-layang, kelereng dan permainan-permainan tradisional lainnya yang tenar di zaman 90-an ke atas. Tidak pula disibukkan dengan belajar dan kegiatan-kegiatan seperti membaca buku. Saat ini anak-anak telah terambil alih oleh dunia virtual yang terus membayanginya melalui gadget. Sehingga kegiatan-kegiatan lain seperti mengaji—khususnya dilingkungan pedesaan—telah banyak teralihkan oleh gadget.
Berdasarkan data yang tercantum dalam situs Daily Social (DS) Annual Startup Report 2015 yang dilansir dari website Good News From Indonesia, data-data yang mereka dapatkan berasal dari APJII dan AdPlus mengenai kondisi terakhir pengguna internet di Indonesia. Beberapa fakta menariknya adalah saat ini terdapat sekitar 83,6 juta pengguna internet atau betumbuh sebanyak 33% dibanding akhir tahun lalu. 34% dari angka di atas, menggunakan internet melalui koneksi broadband.
Data menarik lainnya adalah bahwa secara hitungan populasi, total jumlah pengguna internet baru merupakan generasi lebih tua (40-59 tahun) yang mencapai 28,3%. Sementara 69,3% merupakan generasi muda dengan rentang umur diantara 20 sampai 39 tahun. Bila dibandingkan dengan pengguna internet yang ‘hanya’ 83 juga, di Indonesia saat ini pengguna aktif ponsel telah mencapai 281,9 juta orang. Jumlah tersebut menggambarkan bahwa setiap orang di Indonesia memgang ponsel sebanyak 1,13 unit.
Berdasarkan jumlah persentase di atas sangat jelas bahwa angka penggunaan gadget dan internet lebih banyak di kalangan generasi muda. Sedangkan 10 besar peringkat situs terpopuler ang palin banyak diakses sebanyak 50% adalah situs lokal seperti detikcom, Liputan6, Kaskus, BukaLapak, dan Kompas.com. Meski begitu lima situs lokal tersebut masih kalah bersaing dengan peringkat 5 terpopuler yang seluruhnya didominasi oleh situs-situs luar negeri seperti Google, Facebook, Youtube, Yahoo!, dan WordPress.
Konten Hoax dan Ancaman Terorisme
Dengan menjamurnya situs-situs berita dan banyaknya sosial media, laju informasi sudah tidak bisa lagi dibendung. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi penulis. Karena saat ini beberapa berita hoax banyak yang bersifat menghasut dan memprovokasi. Fenomena mudahnya seseorang menyebarkan sebuah berita yang dapat dikategorikan hoax disebabkan oleh kurangnya kemampuan dan pengetahuan dalam menyaring informasi. Sehingga lambat laun, penyebaran informasi hoax ini semakin banyak dilakukan. Imbasnya, lini masa dunia maya pun berubah menjadi arena pertarungan gagasan dan komentar-komentar pedas. Serta merebaknya ujaran-ujaran kebencian.
Hal ini teramat meresahkan, lebih-lebih bagi pengguna dunia maya aktif yang lebih banyak digandrungi generasi muda. Tentu saja ini merupakan lahan yang empuk bagi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dalam menebar virus-virus atau ajaran yang tidak baik, seperti yang ramai dibicarakan belakangan ini adalah perekrutan teroris yang dilakukan melalui media online.
Hal semacam ini amat nyata terjadi. Berbagai lapisan masyarakat mulai tertarik untuk ikut menebar aksi teror dibawah nama “Jihad” dan iming-iming mati syahid. Bahkan anak-anak diikut sertakan dalam propaganda menebar ajakan untuk melakukan aksi terorisme. Terbukti dengan banyak bermunculan posting yang menggunakan foto anak-anak memegang senjata dan banyak lagi bentuk lainnya. Hal ini tidak lain adalah bentuk propaganda terorisme dan radikalisme. Bayangkan saja bagaimana nasib generasi muda kita kedepannya.
Memaksimalkan peran guru ngaji
Mengapa guru ngaji ? mungkin pembaca bertanya. Jika selama ini edukasi tentang bahaya terorisme dan radikalisme hanya digaungkan dilingkungan akademik atau sekolah formal saja, ternyata salah satu bagian yang sering terlupakan adalah lingkungan keagamaan seperti TPQ dan TPA. Mengingat peran tokoh masyarakat seperti guru ngaji masih sangat diperhitungkan dilingkungan masyarakat Indonesia.
Kepercayaan masyarakat kita terhadap tokoh agama masih sangat tinggi, sehingga hal ini tentu memberi peluang yang cukup baik untuk mulai mengkapmanyekan bahaya terorisme dan radikalisme sejak dini melalui guru ngaji. Sehingga pemerintah dirasa perlu untuk melakukan pendekatan kepada guru ngaji melalui penataran yang dilakukan kementerian agama dengan materi pentingnya menjaga keutuhan bangsa, serta menolak segala bentuk terorisme dan radikalisme.

Bagikan ke tempan sosial anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *