[21-Sep-2018 04:50:59 America/Chicago] PHP Fatal error: Call to undefined function plugins_url() in /home/mandalikadutadam/public_html/wp-content/plugins/accelerated-mobile-pages/pagebuilder/modules/image.php on line 11 [21-Sep-2018 04:50:59 America/Chicago] PHP Fatal error: Call to undefined function plugins_url() in /home/mandalikadutadam/public_html/wp-content/plugins/accelerated-mobile-pages/pagebuilder/modules/blurb.php on line 27 [21-Sep-2018 04:50:59 America/Chicago] PHP Fatal error: Call to undefined function get_categories() in /home/mandalikadutadam/public_html/wp-content/plugins/accelerated-mobile-pages/pagebuilder/modules/contents.php on line 13 FESTIVAL DAMAI 2018 - Mandalika Duta Damai
Saturday, November 17Mataram - Nusa Tenggara Barat

FESTIVAL DAMAI 2018

Bagikan ke tempan sosial anda

DAMAI ITU INDONESIA: (kiri ke kanan) ND Kinastri Roliskana, H Mohan Roliskana,Brigjen Pol Ir Hamli ME dan Prof Suprapto deklarasikan Indonesia Damai tanpa Hoax Dan Radikalisme, kemarin (13/5).

Waspadai Penyebaran Radikalisme Lewat Medsos

MATARAM – Berita hoax dan radikalisme yang tersebar melalui media, khususnya media sosial (medsos) tidak hanya bisa meracuni, tapi juga bisa menkontaminasi jiwa seseorang. Bila tak disikapi, seseorang bisa menjadi terorisme.

“Hari ini (kemarin) kita berduka, aksi terorisme terjadi di Surabaya,” kata Plt Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana, di Pantai Bangsal Tanjung Karang Mataram, kemarin (13/5).

Mohan yang hadir membuka festival damai inisiasi Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT) serta Duta Damai Dunia Maya Regional NTB menyebut, saat ini media sosial (Medsos) sudah menjadi medan subur terorisme.

“Medsos ini ibarat pisau bermata dua, bermanfaat namun juga membahayakan,” terangnya.

Politisi Partai Golkar ini mengungkapkan, aksi yang terjadi di Surabaya adalah bentuk berpikir sempit. Tidak ada satupun agama yang membolehkan kekerasan, apalagi sampai mengebom.

“Anak-anak muda harus terus menggaungkan lawan terorisme,” imbuhnya.

Lebih lanjut, di Mataram hingga saat ini kondisinya masih kondusif. Jauh dari kata konflik yang dipicu oleh berita hoax medsos maupun radikalisme.

”Sampai sejauh ini Alhamdulillah tidak ada laporan terkait aktivitas radikal seperti itu,” tuturnya.

Ia berharap kondisi ini akan terus terjadi. Dikarenakan dirinya terus melakukan penekan pada aparat di tingkat kecamatan, keluruhan maupun tingkat lingkungan. Agar sama-sama menjadi bagian komponen untuk pencegahan.

”Saya rasa itu merupakan hal yang paling tepat dapat membantu pemerintah untuk mencegah hal-hal tersebut,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Deputi Penindakan BNPT Brigjen Hamli mengatakan, melawan hoax dan radikalisme harus mulai dari diri sendiri.

“Karena kadang-kadang diri kita sendiri bisa menjadi sumber yang mengaplikasi berita hoax tersebut bisa tersebar kemana-mana. Kalau ada berita yang misalnya tidak kita yakini, maka stop di kita saja,” ucapnya.

“Itu merupakan salah satu kontribusi yang amat sangat penting untuk memutus mata rantai hoax dan berita radikalisme,” tambahnya.

Dikatakan, NTB merupakan salah satu wilayah yang termasuk rawan. NTB pun termasuk dalam zona merah. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) 80 persen dari 600 tersangka terorisme yang berhasil dibekuk merupakan para pemuda atau remaja. Dimana usianya berkisar antara 17-25 tahun.

“Dengan kata lain, perekrutan dari para teroris ini pun telah dilakukan melalui medsos,” ujarnya.

Hal inilah, sambung Jendral bintang satu ini, yang perlu diperhatikan dengan baik. Diketahui bahwa remaja khususnya, lebih banyak berinteraksi melalui medsos. Sehingga perlu ada pengawasan langsung dari orang tua.

“Pembelajaran melalui keluarga merupakan salah satu cara ampuh. Yang berguna untuk membantu menangkal paham radikal maupun penyebaran hoax,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, hadir pula Ketua BKOW Mataram ND Kinastri Roliskana dan Prof Suprapto, Direktur Nusa Tenggara Centre. Keduanya menjadi narasumber dalam talkshow. Yang sama-sama memberikan pemahaman mengenai cara untuk menangkal hoax dan radikalisme.

Menurut Kinastri, hal yang serba mudah di era globalisasi perlu diwaspadai karena kebanyakan tidak menelaah dulu sebelum disebarkan ke orang lain.

“Tidak ada pikiran apakah hal itu berakibat apa nantinya,” ujarnya.

Senada, Prof Suprapto menyebut, peran medsos saat ini memang perlu disikapi dengan bijak. Segala sesuatu tidak harus ditelan mentah-mentah. Perlu ada pengecekan kebenaran. Agar tidak mudah tersulit emosi. Sehingga menimbulkan perpecahan.

”Maka dari itu perlu juga pengawasan orang tua, pemahaman dari keluarga karena dari pondasi keluarga yang kuat dapat juga diupayakan sebagai bentuk pencegahan,” katanya.

Ketua Panitia Fadil Setia Gunawan mengatakan, talkshow ini merupakan salah satu rangkaian acara yang diselenggarakan oleh duta damai Indonesia. Acara ini sengaja dilakukan di pesisir pantai agar dapat sama-sama menerima informasi terkait cara menangkal hoax dan radikalisme.

”Biar informasi yang didapat merata sehingga gaungnya lebih terasa jadi remaja di sekitar sini juga nanti dapat mencegah bersama,” ujarnya.

Bagikan ke tempan sosial anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *